Selasa, 03 Desember 2013

Mengapa Soekarno Tidak Mau Memukul Soeharto


TINDAKAN Soeharto menyelewengkan
Surat Perintah 11 Maret 1966 sangat
menyakiti perasaan Bung Karno.
Sejumlah petinggi militer yang masih
setia pada Sukarno ketika itu pun merasa
geram. Mereka meminta agar Sukarno
bertindak tegas dengan memukul
Soeharto dan pasukannya. Tetapi
Sukarno menolak.

Sukarno tak mau terjadi huru-hara,
apalagi sampai melibatkan tentara.

Perang saudara, menurut Sukarno,
adalah hal yang ditunggu-tunggu pihak
asing—kaum kolonial yang mengincar
Indonesia–sejak lama. Begitu perang
saudara meletus, pihak asing, terutama
Amerika Serikat dan Inggris akan
mengirimkan pasukan mereka ke
Indonesia dengan alasan menyelamatkan
fasilitas negara mereka, mulai dari para
diplomat kedutaanbesar sampai
perusahaan-perusahaan asing milik
mereka.

Kesaksian mengenai keengganan
Sukarno menggunakan cara-cara
kekerasan dalam menghadapi manuver
Soeharto disampaikan salah seorang
menteri Kabinet Dwikora, Muhammad
Achadi. Saya bertemu Achadi, mantan
menteri transmigrasi dan rektor
Universitas Bung Karno itu dua pekan lalu
di Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta
Pusat. Achadi bercerita dengan lancar
kepada saya dan beberapa teman. Air
putih dan pisang rebus menemani
pembicaraan kami sore itu.

Komandan Korps Komando (KKO) Letjen
Hartono termasuk salah seorang petinggi
militer yang menyatakan siap menunggu
perintah pukul dari Sukarno. KKO sejak
lama memang dikenal sebagai barisan
pendukung utama Soekarno. Kalimat
Hartono: “hitam kata Bung Karno, hitam
kata KKo” yang populer di masa-masa itu
masih sering terdengar hingga kini.

Suatu hari di pertengahan Maret 1966,
Hartono yang ketika itu menjabat sebagai
Menteri/Wakil Panglima Angkatan Laut itu
datang ke Istana Merdeka menemui Bung
Karno. Ketika itu Achadi sedang
memberikan laporan pada Sukarno
tentang penahanan beberapa menteri
yang dilakukan oleh pasukan yang loyal
pada Soeharto.

Mendengar laporan itu, menurut Achadi,
Bung Karno berkata (kira-kira), “Kemarin
sore Harto datang ke sini. Dia minta izin
melakukan pengawalan kepada para
menteri yang menurut informasi akan
didemo oleh mahasiswa.”
“Tetapi itu bukan pengawalan,” kata
Achadi. Untuk membuktikan laporannya,
Achadi memerintahkan ajudannya
menghubungi menteri penerangan
Achmadi. Seperti Achadi, Achmadi juga
duduk di Tim Epilog yang bertugas
menghentikan ekses buruk
pascapembunuhan enam jenderal dan
perwira muda Angkatan Darat dinihari 1
Oktober 1965. Soeharto juga berada di
dalam tim itu.

Tetapi setelah beberapa kali dicoba,
Achmadi tidak dapat dihubungi. Tidak
jelas dimana keberadaannya.

Saat itulah Hartono minta izin untuk
menghadapi Soeharto dan pasukannya.

Tetapi Bung Karno menggelengkan kepala, melarang.
Padahal masih kata Achadi, selain KKO,
Panglima Kodam Jaya Amir Machmud,
Panglima Kodam Siliwangi Ibrahim Adji,
dan beberapa panglima kodam lainnya
juga bersedia menghadapi Soeharto.

“Bung Karno tetap menggelengkan
kepala. Dia sama sekali tidak mau terjadi
pertumpahan darah, dan perang
saudara.”

Kalau begitu apa yang harus kami
lakukan, tanya Achadi dan Hartono.

Bung Karno memerintahkan Hartono
untuk menghalang-halangi upaya
Soeharto agar jangan sampai
berkembang lebih jauh. “Hanya itu
tugasnya, Hartono diminta menjabarkan
sendiri. Yang jelas jangan sampai ada
perang saudara,” kata Achadi.

Adapun Achadi yang tak bisa kembali ke
rumahnya di kawasan Pancoran yang
sedang diduduki pasukan Soeharto
diperintahkan Bung Karno bermalam di
guest house Istana. Bung Karno juga
mengatakan akan menggelar rapat
kabinet keesokan harinya. Dalam rapat
yang juga akan dihadiri Soeharto itu,
Achadi diminta untuk menyampaikan
laporan tentang penahanan beberapa
menteri.

“Kamu berani bicara di depan Soeharto,”
tanya Bung Karno pada Achadi.

“Siap,” jawab Achadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar